HP Gaming Rp4 Juta 2026 Udah Bisa 120 FPS, Tapi Kenapa Pemain Tetap Pilih HP Flagship Bekas?
Uncategorized

HP Gaming Rp4 Juta 2026 Udah Bisa 120 FPS, Tapi Kenapa Pemain Tetap Pilih HP Flagship Bekas?

Lo liat iklannya.

Chipset terbaru. Layar 120Hz. Game 120 FPS stabil. Harga cuma Rp4.199.000.

Bandingin sama flagship bekas. Snapdragon 8 Gen 2. Keluaran 2023. Udah 3 tahun. Harganya? Masih Rp4,5 jutaan. Lebih mahal.

Lo pikir: Masa sih beli barang bekas lebih mahal dari barang baru? Gila kali.

Tapi lo buka forum. Lo baca komentar. Lo lihat temen-temen milih yang bekas.

Dan lo bingung.

Mereka bego apa gue yang kurang paham?


Bukan Spesifikasi. Tapi Konsistensi.

Gue jelasin pelan-pelan.

HP gaming Rp4 juta di 2026 itu spesifikasinya gila. 12GB RAM. 256GB UFS 3.1. Chipset 6nm dengan clock tinggi.

Iklannya bilang 120 FPS stabil. Dan iya, di lab, di ruangan ber-AC, dengan kipas tambahan, baru distart, 5 menit pertama—dia 120 FPS.

Terus lo main ranked.

30 menit kemudian. Panas. Thermal throttle. FPS turun ke 60. Kadang 45.

Lo matiin. Lo dinginin. Lo lanjut.

30 menit kemudian turun lagi.

Dan lo sadar: angka 120 FPS itu cuma tamu. Nggak nginep.

Sementara flagship bekas? Snapdragon 8 Gen 2 itu udah teruji 3 tahun. Thermal throttling-nya terkendali. Sustained performance-nya konsisten. Dia 90 FPS terus—nggak 120—tapi 90 itu 90, dari menit pertama sampe baterai 15%.

Lo pilih mana? Tamu mewah yang cuma mampir, atau teman biasa yang setia seharian?


3 Cerita: Mereka Pilih Bekas dan Punya Alasannya

Fajar, 21 tahun, mahasiswa

Fajar punya budget Rp4,5 juta. Pilihan antara: HP gaming anyar merk X, atau iPhone 13 Pro bekas.

HP anyar: 120Hz, 120W charging, kamera 108MP.

iPhone bekas: 60Hz, 20W charging, kamera 12MP.

Fajar pilih iPhone.

Temennya ketawa: “Lo bego? Spesifikasi kalah semua, harga lebih mahal, masih 60Hz pula!”

Fajar diem. Setahun kemudian, HP gaming temennya udah lemot, baterai drop, udah dijual 3x. iPhone Fajar masih mulus.

“Sekarang siapa yang bego?” kata Fajar sambil main ML di 60fps stabil sedangkan HP temennya udah panas level kompor.

Dewi, 19 tahun, pelajar

Dewi nabung 2 tahun buat beli HP. Pas uangnya terkumpul, dia bingung: beli yang baru keluaran 2026, atau Samsung S23 Ultra bekas?

Akhirnya dia pilih S23 Ultra.

“Gue riset dulu. Ternyata chipset baru di HP budget itu optimasinya pas-pasan. Iya sih 120 FPS, tapi cuma di game ringan. Pas main genshin, dia kalah sama S23.”

Dia nemuin ulasan: S23 Ultra genshin 55-60fps stabil. HP gaming 4 jutaan? 45-50fps, kadang drop ke 30.

“Mending 60fps terus daripada 120 sebentar terus 30.”

Rizky, 26 tahun, staf gudang

Rizky beli Xiaomi flagship bekas 2023. Harganya Rp4,8 juta. Dia ditawarin HP gaming baru harga Rp3,9 juta.

Dia tetep ambil bekas.

“Lo tau nggak? HP gaming murah itu biasanya build quality-nya plastik. Setahun getas. Dua tahun baterai ngembung. Flagship bekas? Aluminium. Kaca. Awet.”

Dia buktiin. HP-nya udah 2 tahun, jatuh 3x, masih aman.

“Investasi, bukan beli barang.”


Statistik yang Nggak Pernah Masuk Brosur

Data dari komunitas gamer mobile dan forum jual-beli (fiktif, tapi lo tau ini bener):

67% gamer mobile dengan budget Rp3–5 juta memilih flagship 2–3 tahun bekas dibanding HP gaming baru di kelas harga sama.

Alasan:

  • Performa sustain lebih baik (48%)
  • Build quality lebih awet (27%)
  • Value saat dijual kembali lebih tinggi (25%)

Iya, HP baru lebih murah. Tapi HP flagship bekas lebih murah per tahun.

Lo beli HP baru Rp4 juta. Setahun kemudian? Udah turun harga jadi Rp2,5 juta. Lo jual, rugi Rp1,5 juta.

Lo beli flagship bekas Rp4,5 juta. Setahun kemudian? Harganya masih Rp3,8 juta. Lo jual, rugi cuma Rp700 ribu.

Efektif cost-nya lebih rendah. Itu yang jarang dihitung.


Ini Bukan Soar Minder. Ini Soal Prioritas.

Lo mungkin mikir: Ah, gue nggak peduli sustain performance. Yang penting gue bisa bilang HP gue 120 FPS.

Silakan. Itu pilihan.

Tapi lo harus tau: 120 FPS di HP gaming murah itu kayak pacar yang cuma baik pas awal-awal doang. Bulan pertama manis. Bulan ketiga mulai ngambek. Tahun pertama minta putus.

Sementara flagship bekas itu pacar biasa yang stabil. Nggak romantis, nggak bikin deg-degan. Tapi dia ada terus. Nggak pergi pas lo butuh.

Dan buat gamer—yang tiap hari ranked, yang tiap minggu turnamen, yang nggak mau FPS drop di menit krusial—konsistensi itu harganya mahal.


4 Tips Beli HP Bekas Biar Nggak Ketipu

Ok. Lo tertarik. Lo mau coba flagship bekas.

Tapi lo takut: Nanti dapet barang abal-abal? Baterai soak? IMEI suspect?

Ini cheat sheet-nya:

1. Beli dari seller yang udah lama, bukan toko dadakan

Cek umur akun. Cek rating negatif. Cek apakah ada komplain “barang beda deskripsi”.

Toko dengan 10rb pengikut dan rating 4.9 lebih aman daripada toko baru diskon 40%.

2. Minta foto kondisi baterai pakai aplikasi

Android bisa pakai AccuBattery. Minta screenshot siklus charge dan kapasitas tersisa.

Kalau udah di bawah 80%, itu baterai harus ganti dalam 6 bulan.

3. Pastikan IMEI terdaftar dan nggak kena blacklist

Cek di website Bea Cukai atau telpon *888#.

HP murah boleh BM. HP flagship bekas? Jangan. Susah servis, susah jual lagi.

4. Utamakan kondisi fisik mulus daripada kelengkapan kotak

Banyak orang obsesi “fullset”. Padahal kardus bekas jual Rp50rb. Yang penting adalah: body mulus, layar nggak burn-in, port masih kencang.

Lo beli HP buat dipake, bukan buat dipajang di etalase.


3 Kesalahan Gamer Budget Pas Beli HP

❌ Salah #1: Terpesona angka di brosur

120Hz. 120W. 108MP.

Angka-angkanya gede. Tapi lo nggak nanya: bertahan berapa lama?

Mending 90Hz konsisten daripada 120Hz cuma 10 menit.

❌ Salah #2: Anggap semua chipset sama

“Dimensity 7300 vs Snapdragon 888? Pasti yang baru dong.”

Nggak selalu. Chipset baru kelas menengah sering kalah sustained performance dari flagship lama.

Cek review jangka panjang, bukan cuma benchmark.

❌ Salah #3: Lupa budget buat case dan tempered glass

Lo beli HP habis Rp4,5 juta. Nggak sisa buat proteksi. Jatuh seminggu kemudian, layar retak.

Service center flagship bekas? Mahal. Part orisinal? Susah.

Alokasi minimal Rp200rb buat case dan pelindung layar. Itu investasi, bukan biaya.


Jadi, Lo Pilih Yang Mana?

Gue nggak akan bilang “beli flagship bekas pasti lebih baik”.

Ada situasi di mana HP baru lebih masuk akal:

  • Lo butuh garansi resmi
  • Lo nggak mau ribet cek kondisi barang
  • Lo ganti HP tiap tahun dan jual yang lama

Tapi buat lo yang:

  • Main game tiap hari
  • Nggak ganti HP tiap tahun
  • Pengen performa konsisten
  • Mikir value jangka panjang

HP gaming Rp4 juta 2026 mungkin kelihatan menggoda. Tapi kalau lo hitung total cost of ownership, sustain performance, dan harga jual kembali…

*Flagship bekas itu bukan barang sisa. Itu barang bukti: teknologi bagus itu nggak cepet tua. *


Konsistensi Itu Mahal. Dan Lo Layak Dapet Itu.

Lo mungkin nggak bisa beli HP flagship baru. Bukan karena lo miskin—tapi karena prioritas lo beda.

Sekolah. Kuliah. Cicilan. Nemenin orang tua.

Tapi lo tetap pengen main game. Lo tetap pengen menang. Lo tetap pengen HP yang nggak nge-drop di menit terakhir clash.

Lo layak dapet itu.

Bukan dengan ngoyo beli barang baru yang speknya gede tapi lekas menyerah.

Tapi dengan cerdas milih barang bekas yang masih punya harga diri.

Karena di 2026, gamer sejati bukan yang punya FPS tertinggi.

Tapi yang FPS-nya nggak turun pas final team fight.

Anda mungkin juga suka...